KEGIATAN AUDIENSI DAN DISKUSI PUBLIK MAHASISWA A-MELT BERSAMA PEMERINTAH DAERAH DIY: MENJAWAB ISU DEPOPULASI DENGAN PERSPEKTIF ISLAM

Yogyakarta, 26 Juni 2025

Mahasiswa STEI Hamfara yang tergabung dalam program A-MELT Explore to Japan 2025 (Advance, Management, Entrepreneurship, Leadership, Training) melaksanakan kegiatan audiensi dan diskusi bersama perwakilan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pra A-MELT Angkatan 2022 yang tahun ini akan dilaksanakan di Jepang, dengan mengangkat tema utama “Solusi Depopulasi dan Isu Ketenagakerjaan dalam Sudut Pandang Ekonomi Islam”. Adapun untuk kunjungan ke Pemerintah Daerah mengangkat judul khusus yaitu “Pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul Menuju Indonesia Emas Dalam Bingkai Program A-MELT”.

Pada kesempatan ini, para mahasiswa didampingi oleh Bapak Wijiharta selaku Wakil Ketua III bidang kemahasiswaan dan kerja sama serta Bapak Agus Yohana selaku pembina A-MELT 2025. Kehadiran mahasiswa disambut hangat oleh Bapak Priswanto beserta jajaran staf dari Pemerintah Daerah DIY, menciptakan suasana dialog yang akrab dan penuh apresiasi.

Program ini bertujuan untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam mempresentasikan ide, memperkuat kemampuan berpikir kritis, dan menumbuhkan kesadaran terhadap isu global yang berdampak pada masa depan Indonesia, terutama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Pengenalan STEI Hamfara dan Tujuan Kegiatan

STEI Hamfara merupakan perguruan tinggi Islam yang berkomitmen mencetak generasi intelektual muslim yang berkarakter dan berdaya saing global. Dengan sistem pendidikan yang mengintegrasikan tiga pilar utama yaitu kepesantrenan, kemahasiswaan, dan akademik, di mana mahasiswa diarahkan untuk siap terjun dalam berbagai peran strategis: sebagai entrepreneur, profesional, dan asisten peneliti.

Program A-MELT menjadi wadah nyata untuk mengasah soft skills mahasiswa, tidak hanya dalam konteks akademik, namun juga dalam kepemimpinan, diplomasi, dan kerja tim. Melalui audiensi ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk mempresentasikan misi keberangkatan, menerima masukan, serta menyampaikan solusi dari sudut pandang Islam terhadap isu-isu global seperti depopulasi.

Dinamika Diskusi dan Masukan dari Pemerintah Daerah

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif, mencerminkan semangat saling belajar antara mahasiswa dan Pemerintah Daerah. Para peserta diberikan ruang untuk bertanya, memberikan tanggapan, sekaligus menerima masukan konstruktif. Perwakilan Biro Pemerintahan DIY memberikan apresiasi atas keberanian dan kesiapan mahasiswa dalam mempresentasikan gagasan, sekaligus menyampaikan beberapa catatan penting untuk penyempurnaan.

Jawaban Mahasiswa atas Pertanyaan Strategis

Dalam sesi tanya jawab, dua pertanyaan utama dilontarkan kepada peserta A-MELT:

1. Mengapa Jepang yang dipilih sebagai negara tujuan? 

Mahasiswa menjelaskan bahwa Jepang merupakan negara Asia yang paling menonjol dalam isu depopulasi. Selain itu, Jepang juga memiliki nilai-nilai moral yang dekat dengan budaya Indonesia. Banyaknya mu’alaf di Jepang juga menjadi alasan tersendiri, karena dianggap lebih terbuka terhadap pandangan Islam. STEI Hamfara juga memiliki beberapa relasi dan akses ke komunitas Indonesia di Jepang yang akan memudahkan diskusi dan pertukaran gagasan.

2. Apa saja tujuan kunjungan dan hasil yang ingin dicapai? 

Mahasiswa menjelaskan bahwa setiap lokasi yang dikunjungi memiliki tujuan strategis yang berbeda namun saling terhubung dalam kerangka besar A-MELT. Di KBRI Tokyo, mahasiswa akan melakukan audiensi resmi untuk memperkenalkan program, menjalin komunikasi diplomatik, serta menggali peran Indonesia dalam isu depopulasi. Kunjungan ke Universitas Tokyo, Universitas Keio, dan Universitas Doshisha di Kyoto bertujuan untuk berdiskusi dengan mahasiswa dan akademisi Jepang mengenai pendekatan negara mereka terhadap isu depopulasi dan ketenagakerjaan. Diskusi ini menjadi sarana bertukar pandangan serta menyampaikan solusi alternatif berbasis nilai-nilai Islam. Sementara itu, kunjungan ke Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia (KMII) dan masjid di Yokohama, Jepang akan difokuskan pada kajian interaktif dan dakwah kolaboratif, terutama untuk menyapa para mu’alaf serta mengeksplorasi perkembangan ekonomi Islam di Jepang.

Dari keseluruhan rangkaian ini, mahasiswa berharap memperoleh pemahaman langsung atas realitas sosial Jepang, memperluas jejaring internasional, serta merumuskan solusi dan rekomendasi yang dapat diterapkan di Indonesia melalui proyek riset dan aksi sosial berbasis komunitas.

Refleksi dari Pemerintah Daerah: Menjawab Tantangan Daerah

Menariknya, dalam diskusi juga muncul refleksi dari Pemda DIY yang menyatakan bahwa DIY mengalami gejala serupa dengan Jepang, yaitu mulai menurunnya jumlah usia produktif. Banyak anak muda yang keluar dari desa dan kota kecil untuk mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan ke luar daerah. Maka, diskusi tentang depopulasi bukan hanya milik Jepang, tetapi juga relevan dengan kondisi lokal. Hal ini menjadi alarm awal yang penting untuk dicermati, bahwa bonus demografi Indonesia tidak boleh disia-siakan.

Diakhir audiensi ditutup dengan harapan agar mahasiswa membawa pulang nilai-nilai positif dari Jepang seperti kedisiplinan, kebersihan, budaya antre, kerja keras, serta kepedulian terhadap lingkungan. Budaya kecil seperti memilah sampah, saling mendahulukan di pintu kereta, hingga semangat bekerja dari pagi hingga malam, menjadi pembelajaran yang sangat berharga untuk membentuk pemimpin masa depan.


“Pemimpin itu belajar dari hal kecil dulu. Kalau hal kecil tidak dibiasakan, bagaimana bisa memimpin hal besar?”


pesan salah satu perwakilan Pemerintah Daerah. 

Dengan berlangsungnya kegiatan ini, mahasiswa STEI Hamfara tidak hanya bersiap tampil di forum internasional, tetapi juga membawa harapan untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang solutif agar dapat memberi kontribusi nyata bagi peradaban global, terutama dalam membumikan ekonomi Islam secara inklusif.

 

Tim Penulis: Nazwa Aldrina Rahma, Rahma Arrummi

Editor: Rita Widya Putri