February 7, 2017

PROSPEK DAN TANTANGAN EKONOMI ISLAM

hamfaralogoPROSPEK DAN TANTANGAN EKONOMI ISLAM. Paling tidak sejak satu dasawarsa terakhir, berkembang sangat pesat wacana dan praktek ekonomi Islam, khususnya dalam lapangan perbankan Islam. Setelah BMI yang berdiri tahun 1992, kini berdiri pula Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank BNI Syariah, dan segera menyusul BRI Syariah, Bank Niaga Syariah dan Bank Mega Syariah. Kenyataan ini seakan menandai era baru: yaitu kritisisme terhadap ideologi kapitalisme yang telah mencengkeram dunia sekian puluh tahun lamanya dan dirasakan makin tidak mampu mensejahterakan masyarakat, serta upaya intensif untuk mencari alternatif terbaik. Menariknya lagi, ternyata gejala ini berkembang bukan hanya di Indonesia tapi juga di belahan dunia yang lain, termasuk di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat yang dikenal sebagai pusat kapitalisme.

Pertanyaannya, apakah perkembangan ini sekadar merupakan gejala sesaat bagaikan sebuah mode dalam dunia fashion ataukah merupakan embrio dari sebuah kebangkitan peradaban baru? Dengan kata lain, bagaimana sesungguhnya prospek dan apa pula tantangan ekonomi Islam di era globalisasi ini?

Krismon: Berkah Terselubung

Ada beberapa faktor pendukung prospek lajunya sistem ekonomi Islam di negeri ini. Diantaranya adalah:

Pertama, hancurnya sosialisme beberapa waktu lalu seiring dengan runtuhnya Uni Sovyet dan sejumlah negara komunis lainnya di penghujung tahun 80-an, dan makin loyonya kapitalisme seperti ditunjukkan dengan terjadinya krisis di berbagai negara. Di Indonesia misalnya, krisis ekonomi yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun betul-betul membawa pengaruh yang sangat buruk bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Puluhan juta orang terpaksa hidup dalam kemiskinan dan belasan juta kehilangan pekerjaan. Jutaan anak harus putus sekolah. Dan jutaan lagi lainnya mengalami malnutrisi. Hidup semakin tidak mudah dijalani, sekalipun untuk sekadar mencari sesuap nasi. Beban kehidupan bertambah berat seiring dengan kenaikan harga-harga akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Bagi mereka yang lemah iman, berbagai kesulitan yang dihadapi itu dengan mudah mendorongnya untuk melakukan tindak kejahatan. Berbagai bentuk kriminalitas mulai dari pencopetan, perampokan maupun pencurian dengan pemberatan serta pembunuhan dan perbuatan tindak asusila, budaya permisif, pornografi dengan dalih kebutuhan ekonomi terasa semakin meningkat tajam. Di sisi lain, sekalipun pemerintahan era reformasi telah berjalan sekian, tapi kestabilan politik belum juga kunjung terujud. Bahkan gejolak sosial dan politik di beberapa daerah malah terasa lebih meningkat. Mengapa semua itu terjadi?

Paling sedikit ada tiga perspektif yang dapat dipakai untuk menjelaskannya (Zaim, 1999). Pertama, dalam perspektif teknis ekonomis krisis itu terjadi oleh karena lemahnya fundamental ekonomi, hutang luar negeri yang luar biasa besar, terjadinya defisit neraca transaksi berjalan dan sebagainya. Solusinya, meningkatkan ekspor, restrukturisasi hutang, dan sebagainya. Sementara dalam perspektif politis, krisis itu terjadi karena berkuasanya rezim yang korup dengan tatanan yang tidak demokratis. Solusinya, melancarkan proses demokratisasi hingga pergantian rezim seperti yang sudah terjadi pada rezim Soeharto. Tapi dalam perspektif filosofis radikal, krisis tersebut terjadi bukan karena itu semua. Tapi lebih oleh karena sistem yang dipakai, yakni kapitalisme liberal, yang memang sudah cacat sejak awal dan bersifat self-destructiv.

Dalam pandangan Islam, sangatlah jelas bahwa krisis moneter yang kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi dan berlanjut menjadi krisis sosial dan politik bukanlah musibah, melainkan fasad (kerusakan). Bila musibah menurut definisi al-Qur’an sebagai peristiwa (seperti gunung meletus, gempa bumi, kecelakaan pesawat dan sebagainya) yang terjadi di luar kuasa, kehendak dan kontrol manusia, maka fasad terjadi akibat tindakan-tindakan atau kebijakan-kebijakan manusia sendiri yang menyimpang dari ketentuan Allah (al-Rum 41), “Telah nyata kerusakan di darat dan lautan oleh karena tangan-tangan (dosa-dosa) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”

Muhammad Ali Ashabuni dalam kitab Shafwatu al-Tafasir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan bi ma kasabat aydinnaas dalam ayat ini adalah bi sababi ma’ashinnaas wa dzunubihim (oleh karena kemaksiyatan-kemaksiyatan dan dosa-dosa yang dilakukan manusia). Maksiyat adalah setiap bentuk pelanggaran terhadap hukum Allah, yakni melakukan yang dilarang dan meninggalkan yang diwajibkan. Dan setiap bentuk kemaksiyatan pasti akan menimbulkan dosa. Dan setiap penyimpangan terhadap hukum Allah memang akan menimbulkan fasad baik menimpa dirinya sendiri ataupun masyarakat luas. Maka krisis ekonomi yang kini tengah terjadi yang sengaja dinampakkan oleh Allah sesungguhnya merupakan akibat logis dari kesalahan manusia dalam menetapkan sistem ekonomi. Khusus mengenai krisis moneter, akibat kesalahan manusia dalam menetapkan jenis dan fungsi mata uang. Berkenaan dengan ayat ini, berkata Abul ‘Aliah, “Barang siapa mendurhakai Allah di muka bumi, maka ia telah membuat kerusakan di muka bumi, karena perbaikan di langit dan di bumi adalah dengan taat kepada-Nya” (Tafsir Ibnu Katsir).

Selama ini terbukti di tengah-tengah masyarakat, termasuk dalam penataan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, banyak sekali kemaksiyatan dilakukan. Dalam sistem sekuler, aturan-aturan Islam memang tidak pernah secara sengaja diterapkan. Islam, sebagaimana agama dalam pengertian barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja. Sementara dalam urusan sosial kemasyarakatan, agama (Islam) ditinggalkan. Maka, di tengah-tengah sistem sekularistik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik.

Dalam tatanan ekonomi kapitalistik, kegiatan ekonomi digerakkan sekadar demi meraih perolehan materi tanpa memandang apakah kegiatan itu sesuai dengan aturan Islam atau tidak. Aturan Islam yang sempurna dirasakan justru menghambat.

Terhadap musibah kita diminta untuk bersabar. Dengan kesadaran tauhid, kita meyakini bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya (inna lillahi wa inna ilayhi raji’uun). Tapi menghadapi fasad, hanya ada satu cara: kembali ke jalan yang benar sebagaimana disebutkan dalam surah al-Rum ayat 41 di atas, yaitu jalan yang diridhai Allah SWT. Itulah syariah Islam, dalam hal ini mengenai masalah ekonomi dan keuangan. Tidak dengan cara lain.

Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan bukan sekadar bersifat teknis ekonomi, juga bukan sekadar penggantian rezim atau melancarkan proses demokratisasi, tapi lebih dari itu harus merupakan penggantian sistem secara total. Sistem ekonomi kapitalis yang didasarkan pada falsafah materialisme memandang manusia hanya sebagai suatu realitas material yang kosong dari ruh. Asumsi yang dijadikan pijakan analisis berangkat dari pandangan dunia yang sangat sempit, yaitu kebendaan, dan tidak pernah dicoba untuk melihat wawasan yang lebih luas lagi sebagaimana dimiliki oleh Islam yang meyakini bahwa kehidupan dunia hanyalah sekadar wasilah bagi sampainya pada kehidupan abadi di alam nanti. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan psikologis, spiritual dan filosofis pada diri manusia sehingga apa yang dihasilkan oleh kemajuan ekonomi modern tidak pernah memberikan kebahagiaan sejati. Gaya hidup konsumeristik, hedonistik, individualistik makin menggejala yang pada gilirannya menimbulkan kesenjangan, anomie, kehampaan ruhani, dan yang paling mengerikan adalah proses dehumanisasi manusia dengan segala bentuk dan ekses-eksesnya seperti berkembangnya penyakit AIDS dan meningkatnya kriminalitas serta berbagai bentuk penyakit sosial lainnya. Kesimpulannya, manusia makin jauh dari hakekat eksistensinya di dunia. Dan itu tidak dapat disembuhkan dengan sekadar meningkatkan pendapatan perkapita. Ada banyak sisi yang terabaikan oleh sistem ekonomi kapitalis.

Maka, berkutat dengan cara-cara kapitalisme dalam menyelesaikan krisis ekonomi atau ragu terhadap cara Islam, hanya akan memperpanjang krisis. Dan itu berarti memperparah keadaan yang akan semakin membuat kita menderita. Masalahnya, sistem apa yang kiranya dapat menggantikan kapitalisme setelah saudara kembarnya, sosialisme, bahkan telah lebih dulu juga mengalami kebangkrutan? Di sinilah Islam, tepatnya sistem ekonomi Islam, memiliki peluang sangat besar. Krismon ternyata membawa berkah.

 

Kedua, tumbuhnya berbagai institusi keuangan Islam di berbagai negara. Di Indonesia, BMI yang berdiri pada tahun 1992 bisa disebut sebagai perintis lembaga keuangan syariah. Cukup lama BMI menjadi pemain tunggal dalam dunia perbankan syariah, sekalipun sebenarnya tergolong terlambat bila dibanding dengan perkembangan bank syariah di negara lain. Islamic Rural Bank di desa Mit Ghamr, Kairo, Mesir, misalnya sudah berdiri tahun 1963. Lalu IDB berdiri tahun 1970. Berturut-turut setelah itu bank-bank syariah berdiri di Sudan, Pakistan, Iran, Malaysia, Bangladesh dan Turki.

Kini, terutama setelah terbitnya UU Perbankan No 10 tahun 1998 yang menyebut secara tegas eksistensi bank syariah sebagai salah satu bentuk bank yang boleh berdiri di Indonesia, tumbuh bank-bank syariah. Yaitu Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank BNI Syariah, Bank IFI Syariah dan Bank Mega Syariah. Menyusul segera berdiri adalah Bank BRI Syariah dan Bank Niaga Syariah. Tapi bank-bank syariah (empat bank umum dan 79 BPRS) itu dari sisi skala masih kalah jauh dibanding dengan bank konvensional yang berjumlah 162 bank umum dan 2.262 BPR. Misalnya dari total volume usaha bank syariah yang hanya Rp 1,2 triliun dan dana pihak ketiga sebesar Rp 661 milyar dibanding dengan bank konvensional yang volume usahanya mencapai Rp 926 triliun dengan dana masyarakat sebesar Rp 723 triliun, lalu dari sisi asset hingga tahun 1999 seluruh bank syariah hanya 0.17% dibanding dengan seluruh bank konvensional, dana pihak ketiga seluruh bank syariah hanya 0.07% dibanding dengan dana ketiga seluruh bank konvensional. Sementara dari sisi penyaluran kredit seluruh bank syariah hanya sekitar Rp 472 milyar dibanding dengan Rp 227 triliun seluruh bank konvensional. Sekalipun demikian, bank syariah (dalam hal ini BMI) terbukti mampu bertahan menghadapi krismon. Di saat bank-bank konvensional berdarah-darah diterpa badai krisis, bahkan puluhan diantaranya terpaksa harus dilikuidasi, bank syariah tetap tegak berdiri. Memang BMI pada puncak krisis tahun 1998 menderita rugi Rp 72 miliar, tapi tahun 1999 sudah pulih dan meraih untung Rp 2 miliar. Kenyataan ini menunjukkan bahwa dengan sistem syariah, dunia perbankan akan terhindar dari momok yang sangat ditakuti yaitu negative spread.

Disamping bank syariah, juga telah berdiri lembaga keuangan Islam lainnya seperti Takaful, Reksadana Syariah dan yang dalam rintisan adalah Lembaga Tabung Haji. Mengenai yang terakhir, diilhami oleh sukses lembaga serupa di Malaysia. Didirikan tiga puluh tahun lalu, LTH di sana kini telah menjadi lembaga keuangan paling terkemuka. Assetnya lebih dari Rp 20 triliun, dengan return yang diberikan paling tinggi dibanding dengan bank syariah apalagi bank konvensional manapun di Malaysia. LTH juga menjadi simbol keberhasilan lembaga keuangan syariah di tengah persaingan dengan lembaga keuangan yang kapitalistik. Kenyataan-kenyataan di atas setidaknya mampu mendongkrak kepercayaan diri ummat bahwa ekonomi Islam memang benar-benar ada, dapat dipraktekkan secara nyata, dan sepanjang dikelola secara professional dengan dukungan SDM yang memadai serta perlindungan regulasi dari pemerintah, dapat berhasil dengan baik.

 

Ketiga, tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan dan wacana ekonomi Islam. Di Indonesia, kian hari makin bertambah banyak lembaga pendidikan yang membuka program studi, jurusan bahkan sekolah tinggi ekonomi Islam. Hal ini disamping dipengaruhi oleh kegairahan dalam pengkajian ekonomi Islam secara ilmiah juga didorong yang semakin banyak diperlukan SDM yang mumpuni guna menunjang pertumbuhan lembaga-lembaga keuangan atau praktek ekonomi Islam.

Di luar Indonesia, pertumbuhan seperti itu malah sudah lebih dulu terjadi, termasuk juga di universitas-universitas Barat yang notabene sekuler, seperti Louborough University dan University of Durhem yang termasuk dua perguruan tinggi bergengsi di Inggris. London School of Economics dan Harvard School of Law sudah sering meminta ceramah ilmiah dari pakar-pakar ekonomi Islam seperti Dr. Umar Chapra, Dr. Khursid Ahmad dan lain-lain.

Berbagai kajian baik melalui media cetak maupun elektronik, konferensi dan   seminar baik dalam skala lokal, regional, nasional maupun internasional telah dilakukan, serta penerbitan buku-buku tentang ekonomi Islam makin mendorong kesadaran dan minat masyarakat pada ekonomi Islam.

Keempat, meningkatnya kesadaran ummat seiring dengan berkembangnya wacana tentang ekonomi Islam melalui berbagai saluran. Faktor ini sangat penting oleh karena apapun yang akan menjadi aktor utama baik berperanan sebabai subyek maupun obyek dalam ekonomi Islam tetap saja ummat. Tanpa kesadaran, maka ekonomi Islam akan mengalami stagnasi, bahkan tertolak.

Tantangan

Ada sejumlah tantangan yang kemungkinan menghadang prospek perkembangan ekonomi Islam, yakni:

Pertama, kesadaran ummat. Prospek ekonomi Islam sangat ditentukan oleh seberapa jauh wacana dan praktek ekonomi Islam di semua peringkat mendapat respon positif dari ummat. Dan respon itu tergantung pada seberapa besar mereka memiliki kesadaran.   Ummat lah yang menjadi pemain utama baik sebagai obyek maupun subyek dalam perkembangan ekonomi Islam. Maka, upaya penyadaran ummat, terutama di dan oleh kalangan cerdik pandai, melalui berbagai sarana dan cara menjadi sesuatu yang sangat urgen

Kedua, SDM baik dari kuantitas maupun kualitas pengetahuan dan keahlian manajerial. Diperlukan SDM yang memiliki tiga kualifikasi sekaligus, yakni kafa’ah (keahlian), himmah (etos kerja) dan amanah (terpercaya dan bertanggungjawab) untuk menggerakkan ekonomi Islam. Di tengah peradaban yang serba bendawi, penyimpangan amanah acap terjadi. Dan ini adalah musuh utama ekonomi Islam, oleh karena tanpa sikap amanah sangat terbuka kemungkinan kegagalan praktek ekonomi Islam, dan itu pada gilirannya akan menghambat perkembangan.

Untuk melahirkan SDM dengan tiga kualifikasi itulah diperlukan lembaga pendidikan ekonomi yang benar-benar terpadu (komprehensif). Terpadu dalam arti mampu menyatukan proses-proses pembentukan syakhsiyyah Islamiyyah, penanaman tsaqofah maupun penguasaan sisi keilmuan profesionalnya.

Apalagi dengan segera datangnya AFTA pada tahun 2003, SDM di Indonesia secara langsung maupun tidak akan bersaing dengan SDM dari negara lain yang lebih maju seperti Singapura dan Malaysia. Bila kalah, bukan tidak mungkin SDM kita akan tersingkir dari percaturan kegiatan ekonomi modern.

Ketiga, dukungan sistem yang tidak kondusif. Praktek ekonomi Islam jelas paling banyak ditentukan oleh kebijakan negara. Karena negaralah yang menentukan dalam sistem seperti apa kegiatan ekonomi akan dikendalikan. Yang paling ideal tentu saja negara tersebut menetapkan sistem ekonomi Islamlah yang menjadi pilihan. Bila bila tidak, negara tetap memberikan ruang bagi munculnya regulasi yang diperlukan dalam praktek ekonomi Islam seperti adanya UU Lembaga Tabung Haji di Malaysia. Tanpa sistem yang kondusif, maka praktek ekonomi Islam dipastikan tidak akan mungkin berkembang. Dia hanya akan berkutat pada level individu maupun korporat. Dan pengaruhnya secara nyata bagi perkembangan ekonomi masyarakat menjadi sangat minim.

Keempat, globalisasi. Globalisasi sesungguhnya hanyalah sekadar eufemisme dari kapitalisme global. Sebagaimana diketahui, kapitalisme sejak dulu memiliki watak eksploitatif dan dominatif. Bila dulu diujudkan dengan kolonialisme yang intinya berupaya penguasaan dan dominasi sumberdaya-sumberdaya ekonomi melalui penjajahan militer, kini watak eksploitasi dan dominasinya itu diujudkan dalam bentuk lain. Yaitu dengan istilah globalisasi. Menyadari bahwa persaingan antar negara kapitalis bisa saling membunuh, maka dibuatlah gagasan untuk memperluas jangkauan pasar bagi produk-produk negara kapitalis. Melalui putaran perundingan, lahirlah GATT yang kemudian dilembagakan menjadi WTO. Dan salah satu tahapan terpenting dari globalisasi adalah liberalisasi perdagangan pada tahun 2020. Sebelumnya pada 2003 akan diperlakukan AFTA. Di Amerika ada NAFTA. Dengan berlakunya ketentuan itu, tidak boleh lagi ada hambatan masuk baik tarif maupun fiskal bagi barang dan jasa produksi suatu negara ke negara manapun. Dengan ketentuan ini tentu saja negara-negara besar yang memiliki kemampuan produksi yang lebih tinggi, yang akan diuntungkan. Ini tak ubahnya seperti pertarungan tinju yang tidak imbang.

Nah, ekonomi Islam menghadap tantangan serupa itu. Globalisasi membuat praktek-praktek ekonomi kapitalis juga mengglobal, masuk dengan mudah ke negeri-negeri muslim. Bila sekarang sudah ada Mc. Donalds, KFC yang menggeser ayam Ny. Suharti dan makanan khas Indonesia lainnya, pada masanya nanti akan lebih banyak lagi perusahaan-perusahaan seperti itu yang akan beroperasi di Indonesia. Bukan hanya di bidang makanan, tapi juga pakaian, hiburan, perusahaan jasa termasuk di bidang keuangan dan sebagainya.

Masyarakat yang tidak memiliki pemahaman tentang ekonomi Islam akan menjadi korban. Dari segi praktek, globalisasi akan semakin memperkuat cengkeraman kapitalisme. Sementara dari segi syariah boleh jadi ada sebagian kecil atau besar yang sebenarnya bertentangan dengan Islam.

 

Keyword artikel: TANTANGAN EKONOMI ISLAM, TANTANGAN EKONOMI ISLAM, TANTANGAN EKONOMI ISLAM, TANTANGAN EKONOMI ISLAMTANTANGAN EKONOMI ISLAM, TANTANGAN EKONOMI ISLAM, TANTANGAN EKONOMI ISLAM, TANTANGAN EKONOMI ISLAM, TANTANGAN EKONOMI ISLAM, TANTANGAN EKONOMI ISLAM, TANTANGAN EKONOMI ISLAM


STEI HAMFARA Merupakan salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Unggulan yang mengintegrasikan model Pendidikan Tinggi Ekonomi Islam dengan Sistem Pendidikan Berpesantren.

Dengan sistem pendidikan berpesantren terbukti membuat mahasiswa STEI Hamfara sangat kuat dalam memahami Ilmu Ekonomi yang sesuai Syariah dan alumninya dikenal memiliki komitmen tinggi serta karakter tangguh dalam membumikan Ekonomi Islam serta berpegang teguh dengan nilai-nilai Islam yang merupakan rahmatan lil’aalamiin.

Di gembleng oleh dosen dan para profesional dalam bidang Ekonomi Islam serta oleh para Pakar Syariah, Pendidikan Berpesantren di STEI Hamfara Membentuk Mahasiswa menjadi Pribadi yang Professional, unggul dalam bidang Ekonomi Islam dan Ulama dalam bidang  Ilmu Agama.

Untuk Pendaftaran Calon Mahasiswa anda bisa mengunjungi:

http://steihamfara.ac.id/formulir

atau hubungi bidang promosi dan penerimaan mahasiswa baru:

CP : Wahyu Dianto,SEI
0857 2821 1006

Mu’tashim Billah M, SEI, MM
0811 255 4846
0877 3821 4846

 

 

,TANTANGAN EKONOMI ISLAM