February 7, 2017

NAFKAH KELUARGA

hamfaralogoNAFKAH KELUARGA. Oleh : Muhammad Ismail Yusanto

PENGANTAR

-keluarga harus ada ta’awun antar suami dan isteri

HUKUM NAFKAH

  1. nafkah wajib atas suami, bukan isteri
  2. isteri boleh bekerja, tanpa melalaikan tugas rumah
  3. jika suami tak bekerja, dosa, kecuali ada yang menanggung
  4. nafkah bila kurang, dibantu Ahlul Waris, dst sampai Baitul Mall

-orang yang idak mampu bekerja (ajiz) bak secara hukman, maupun fi’lan (seprti sakit, cacat, tua-renta)maka : nafkahnya ditanggung oleh orang yang diwajibkan syara’ untuk menanggungnya. Mereka ini adalah :

  1. nafkah isteri atas suami
  2. nafkah anak-anak atas ayah
  3. nafkah ayah-ibu atas anak laki-laki
  4. nafkah qarib atas rahim muharram

Jika tidak ada, atau ada tapi idak mampu maka nafkah menjadi kewajiban baitul mal (dari pos zakat), jika negara tak punya harta maka negara dapat mewajibkan dlaribah, dan jika tidak cukup, negara wajib meminjam (iqradl)

NAFKAH SYAR”I

1.-HALAL :

-nafkah harus yang halal, bukan hasil kerja yang haram.

-Hukum, akibat dan dosa.

2.-MA’RUF ;

-nafkah pada standar “ma’ruf”, isteri boleh ambil tanpa izin suami

-nafkah tak cukup ditunaikan : semampunya

3- MENCUKUPI PRIMER DAN SEKUNDER

-nafkah pada kebutuhan asasi dan kamali

-nafkah asasi: sandang, pangan ,papan; nafkah kamali

4-ADIL :

-nafkah harus adil: untuk isteri I, II,

-nafkah yang adil untuk anak-anak

5.TIDAK BAKHIL

-nafkah yang tidak ditunaikan :bakhil

  1. TIDAK UNTUK KESOMBONGAN

-nafkah yang berlebihan (pada yang haram)

-nafkah untuk kesombongan, bermwah-mewah (haram)

-nafkah bila ada kelebihan : shadaqah, zakat, tetangga, jihad, hak tetangga, famili,dll.

Pengantar

Suami dan isteri sama-sama mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap keluarga. Suami wajib bekerja untuk keluarganya, sedang isteri bertanggung jawab terhadap urusan rumah tangganya. Rasulullah SAW bersabda :

“Laki-laki (suami) adalah laksana penggembala pada keluarganya dan dia akan ditanyai tentang gembalaannya. Wanita (isteri) adalah laksana penggembala di rumah suaminya, dan dia akan ditayai teantang gembalaannya…” (HR. Al Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar)

Setiap amanah yang dibebankan oleh Allah kepada hamba-Nya, kelak di Hari Kiamat akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap penggembala akan gembalaannya, apakah dia menjaganya atau menyia-nyiakannya.” (HR. An Nasa`i dan Ibnu Hibban)

Hukum Nafkah

Islam telah menetapkan bahwa kewajiban mencari nafkah dibebankan atas para suami, bukan atas isteri, walaupun si isteri tersebut kaya. Jadi dasar kewajiban ini bukanlah masalah kaya atau miskin, melainkan karena memang Allah SWT telah mengkhususkan kewajiban ini untuk laki-laki (suami), bukan untuk wanita (isteri). Allah SWT berfirman :

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (QS Al Baqarah : 233).

Ayat tersebut menunjukan bahwa kewajiban nafkah adalah atas suami, karena yang dimaksud dengan lafazh “al maulud lahu” adalah bapak. Ayat tersebut tidak menyebutkan “al maulud laha” (ibu), tetapi “al maulud lahu”, yaitu ayah.

Allah SWT berfirman :

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.” (QS Ath Thalaq : 7)

Orang yang mampu (“dzu sa’atin”) pada ayat di atas adalah laki-laki, bukan wanita. Sebab lafazh “dzu” (artinya: yang mempunyai, Arab:shahibu) dalam bahasa Arab tidak digunakan kecuali untuk laki-laki (mudzkkar). Sedang untuk wanita (mu`annats) digunakan lafazh “dzaatu” , seperti dalam firman Allah SWT :

Namun demikian tidak berarti Islam mengharamkan wanita untuk bekerja atau mencari nafkah. Islam membolehkan, bukan mewajibkan. Jika wanita berkehendak, maka dibolehkan dia untuk bekerja, jika diijinkan oleh suaminya atau oleh ayahnya jika ia belum meikah (Al Baghdadi, 1991). Allah SWT berfirman :

“Bagi laki-laki ada bahagian yang dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan.” (QS An Nisaa` : 32)  cg

Seorang suami akan berdosa bila melalaikan tangung jawabnya dalam menafjahi keluarganya atau orang-orang yang menjadi tanggungannya seperti pembantunya, atau failinya yang tinggal bersamanya. Rasulullah SAW bersabda :

“Cukuplah seseorang dianggap berdosa, jika dia melalaikan orang yang menjadi tanggung jawabnya”. (HR, Ahmad, Abu Dawud, dan Baihaqi dari Abdullah bin Umar)

Seorang laki-laki yang berkerja untuk menafkahi keluarganya, pahalanya disetarakan seperti orang yang berjihad fi sabilillah. Dari Ka’ab bin Ajrah, ia berkata,”Rasulullah melewati seorang laki-laki, lalu beliau melihat kulit tangannya (yang keras) dan pekerjaannya. Para shahabat berkata,”Wahai Rasul, kalau saja tangan ini digunakan untuk jihad fi sabilillah (maka alangkah bagusnya).” Rasulullah bersabda,”Jika dia keluar untuk bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka dia (seperti jihad) fi sabilillah. Jika dia keluar untuk bekerja untuk kepentingan kedua orang tuanya yang sudah tua-renta, maka dia (seperti jihad) fi sabilillah. Jika dia keluar untuk bekerja bagi dirinya sendiri untuk menjaga kehormatan dirinya, dia (seperti jihad) fi sabilillah. Jika dia keluar bekerja karena riya` dan sombong, maka dia ada di jalan syaitan (fi sabili syaithan).” (HR. Ath Thabrani)

Seorang suami haram berbuat kikir atau bakhil, terhadap isteri, anak-anaknya, orang-orang yang mejadi tanggungannya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Bakhil adalah tndakan tidak mengeluarkan nafkah yang wajib. Rasulullah SAW bersabda :

“Jauhkanlah diri kalian dari kekikiran, karena orang-orang sebelum kalian telah binasa lantaran kekikiran..(HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa`I, dan Al Hakim)

Seorang lelaki pernah menemui Nabi SAW dengan mengenakan pakaian yang kumal dan usang. Nabi pun bertanya kepadanya,”Apakah kamu memiliki harta?” Ia menjaab,”Ya.” Nabi bertanya lagi,”Dari harta apa saja?” Ia menjawab,”Dari setiap harta yang telah Allah berikan padaku.” Lalu Nabi SAW bersabda :

“Apabila Allah telah memberikan padamu harta, maka hendaklah nikmat Alah dan kemurahan Allah itu nampak pada dirimu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa`I, dan Al Hakim)

Maka tak ada salahnya seorang muslim berpenamp[ilan rapi dan necis, misalnya dengan pakaian dan alas kaki yang bagus. Namun tentunya tidak boleh disertai dengan sikap takabbur dan sombong pada sesama. Rasulullah SAW bersabda :

“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada seberat zarrah dari kesombongan.” Lalu seorang lelaki berkata,”Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang suka agar pakaiannya bagus dan alas kakinya bagus (Apakah dia termasuk sombong?)” Rasulullah bersabda,”Sesungghnya Allah itu indah lagi mencintai keindahan. Kesombongan tu adalah menlak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)

Keyword artikel: NAFKAH KELUARGA, NAFKAH KELUARGA


STEI HAMFARA Merupakan salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Unggulan yang mengintegrasikan model Pendidikan Tinggi Ekonomi Islam dengan Sistem Pendidikan Berpesantren.

Dengan sistem pendidikan berpesantren terbukti membuat mahasiswa STEI Hamfara sangat kuat dalam memahami Ilmu Ekonomi yang sesuai Syariah dan alumninya dikenal memiliki komitmen tinggi serta karakter tangguh dalam membumikan Ekonomi Islam serta berpegang teguh dengan nilai-nilai Islam yang merupakan rahmatan lil’aalamiin.

Di gembleng oleh dosen dan para profesional dalam bidang Ekonomi Islam serta oleh para Pakar Syariah, Pendidikan Berpesantren di STEI Hamfara Membentuk Mahasiswa menjadi Pribadi yang Professional, unggul dalam bidang Ekonomi Islam dan Ulama dalam bidang  Ilmu Agama.

Untuk Pendaftaran Calon Mahasiswa anda bisa mengunjungi:

http://steihamfara.ac.id/formulir

atau hubungi bidang promosi dan penerimaan mahasiswa baru:

CP : Wahyu Dianto,SEI
0857 2821 1006

Mu’tashim Billah M, SEI, MM
0811 255 4846
0877 3821 4846