February 7, 2017

MENUMBUHKAN SEMANGAT WIRAUSAHA MUSLIM

hamfaralogoMENUMBUHKAN SEMANGAT WIRAUSAHA MUSLIM. Dengan landasan iman, bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dalam pandangan Islam dinilai sebagai ibadah yang disamping memberikan perolehan material, juga Insya Allah akan mendatangkan pahala. Banyak sekali tuntunan dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang mendorong seorang muslim untuk bekerja. Diantaranya, “… maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (al-Jumu’ah 10). Paling baik memenuhi kebutuhan hidup dengan uang yang diperoleh dari usahanya sendiri. Tentang hal ini Rasul berkata, “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri” (HR. Baihaqi). Dan yang luar biasa, ternyata bekerja itu dapat menghapus sebagian dosa-dosa kita. “Sesungguhnya ada sebagian dosa yang tidak bisa terhapus oleh ibadah shaum atau shalat. Ditanyakan pada beliau, “Apa yang dapat menghapuskannya, ya Rasulallah?”, Jawab Rasul, “Bekerja mencari nafkah penghidupan” (HR. Abu Nuaim).

Maka, Rasulullah sangat menghargai orang yang giat bekerja dan mempunyai etos kerja yang tinggi. Rasul Muhammad yang mulia dikabarkan mencium tangan shahabat Saad bin Muadz tatkala melihat tangan Saad sangat kasar akibat bekerja keras, seraya berkata, “kaffani yuhibbuhumallahu ta’ala” – inilah dua tangan yag dicintai Allah ta’ala”. Bila orang yang giat bekerja dipuji, sebaliknya Islam juga sangat mencela orang yang malas. Suatu ketika shahabat Umar bin Khatab datang ke masjid di luar waktu shalat lima waktu. Dilihatnya ada dua orang yang terus menerus berdo’a di masjid. Umar menghampiri mereka seraya bertanya, “Sedang apa kalian, sementara orang-orang di sana kini tengah sibuk bekerja?” Mereka menjawab, “Ya, Amirul Mukminin sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bertawakal kepada Allah”. Mendengar hal itu, marahlah Umar. “Kalian adalah orang-orang yang malas bekerja, padahal kalian tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak”.

Pada pokoknya bekerja itu ada dua macam. Pertama, bekerja untuk orang lain. Di sini seseorang mendapatkan gaji atau upah dari pihak dimana ia bekerja, sebagai imbalan atas kesediaannya untuk selalu bekerja pada pihak itu. Kita sering menyebutnya, bekerja sebagai pegawai atau karyawan. Kedua, bekerja sendiri. Inilah wirausaha. Dia tidak mendapatkan gaji dari orang lain. Ia bekerja untuk dirinya sendiri, baik di sektor produksi (barang dan jasa) maupun sektor perdagangan. Bila berhasil, ia akan mendapatkan untung. Sebaliknya, bila gagal ia harus menanggung kerugian sendiri.

Ada beberapa peluang dan tantangan dalam pengembangan wirausaha yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Sifat dasar ajaran Islam yang sangat mendorong umatnya untuk berusaha sendiri, kiranya bisa disebut sebagai peluang yang terbesar. Bila itu diwujudkan, resultantenya adalah berupa munculnya kelompok wirausaha muslim yang kelak bila dikembangkan secara terus menerus bisa menjadi sebuah networking. Pengalaman membuktikan bahwa salah satu faktor penentu keberhasilan usaha adalah koneksi dan jaringan usaha. Dengan adanya jaringan wirausaha muslim, berbagai usaha bersama bisa dilakukan.

Akan tetapi untuk menjadi wirausaha yang berhasil, bahkan untuk memulai usaha sendiri saja, sejumlah tantangan telah menghadang. Tantangan internal berupa semangat atau etos wirausaha, lalu keahlian di bidang manajemen (produksi, pemasaran dan keuangan) maupun pengembangan kepribadian wirausaha (kreasi, inovasi, negosiasi dan sebagainya), serta modal. Dan yang utama, berkaitan dengan jaminan kehalalan usaha, adalah pemahaman yang bersangkutan tentang aturan-aturan Islam yang berkaitan dengan usaha itu (misalnya tentang riba,   aqad syarikah dan sebagainya).

Di samping tantangan internal, terdapat tantangan eksternal berupa iklim yang kurang kondusif bagi berkembangnya wirausaha muslim. Ketika praktek bisnis tak lagi mengenal etika, wirausaha muslim yang ingin konsisten memegang syariah akan menghadapi tantangan yang berat. Di samping itu, tantangan juga datang dari regulasi ekonomi pemerintah, misalnya menyangkut kredit (yang ribawi) atau perijinan yang berbelit-belit sehingga membuka peluang praktek riswah (sogok menyogok) yang sangat dicela Islam. Semua ini bisa mengendurkan kegairahan berwirausaha.

Tantangan internal bisa diatasi dengan misalnya mengadakan pelatihan kewirausahaan. Dalam pelatihan ini diberikan materi untuk mendorong motivasi berusaha, peningkatan kemampuan manajerial serta pengembangan kepribadian wirausaha muslim. Juga diberikan materi tentang hukum-hukum Islam menyangkut masalah ekonomi dan praktek bisnis dalam Islam. Sementara tantangan eksternal diatasi dengan   mengubah regulasi ekonomi agar sesuai dengan syariah dan menjalin jaringan wirausaha muslim sebagaimana telah disebut di atas, termasuk mengadakan lembaga keuangan syariah untuk mencukupi kebutuhan modal non-ribawi bagi para wirausaha muslim.

Wallahu’alam bi al-shawab.

 

Keyword artikel: MENUMBUHKAN SEMANGAT WIRAUSAHA MUSLIMMENUMBUHKAN SEMANGAT WIRAUSAHA MUSLIM


STEI HAMFARA Merupakan salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Unggulan yang mengintegrasikan model Pendidikan Tinggi Ekonomi Islam dengan Sistem Pendidikan Berpesantren.

Dengan sistem pendidikan berpesantren terbukti membuat mahasiswa STEI Hamfara sangat kuat dalam memahami Ilmu Ekonomi yang sesuai Syariah dan alumninya dikenal memiliki komitmen tinggi serta karakter tangguh dalam membumikan Ekonomi Islam serta berpegang teguh dengan nilai-nilai Islam yang merupakan rahmatan lil’aalamiin.

Di gembleng oleh dosen dan para profesional dalam bidang Ekonomi Islam serta oleh para Pakar Syariah, Pendidikan Berpesantren di STEI Hamfara Membentuk Mahasiswa menjadi Pribadi yang Professional, unggul dalam bidang Ekonomi Islam dan Ulama dalam bidang  Ilmu Agama.

Untuk Pendaftaran Calon Mahasiswa anda bisa mengunjungi:

http://steihamfara.ac.id/formulir

atau hubungi bidang promosi dan penerimaan mahasiswa baru:

CP : Wahyu Dianto,SEI
0857 2821 1006

Mu’tashim Billah M, SEI, MM
0811 255 4846
0877 3821 4846