February 7, 2017

MANAJEMEN PERSPEKTIF SYARIAH

hamfaralogoMANAJEMEN PERSPEKTIF SYARIAH. KRITIK TERHADAP ORIENTASI MANAJEMEN UMUM.Pengaruh Ideologi Kapitalis – Sekuler. Semenjak ideologi kapitalis-sekuler berkembang dan merambah hampir seluruh permukaan bumi , terutama, setelah jatuhnya kekuasaan Khilafah Islam Utsmaniyah pada tahun 1924, bangsa-bangsa di dunia  memasuki  sistem kehidupan  sekuleristik. Tidak terkecuali umat Islam  yang terpecah dalam lebih dari 50 negeri Islam.

Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk  tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik.

Dalam tatanan ekonomi kapitalistik,  kegiatan ekonomi digerakkan sekadar demi meraih perolehan materi tanpa memandang apakah kegiatan itu sesuai dengan aturan Islam atau tidak. Aturan Islam yang sempurna dirasakan justru menghambat. Sementara dalam tatanan politik yang oportunistik, kegiatan politik tidak didedikasikan untuk tegaknya nilai-nilai melainkan sekadar demi jabatan dan kepentingan sempit lainnya.

Dalam tatanan budaya yang hedonistik, budaya telah berkembang sebagai bentuk ekspresi pemuas nafsu jasmani. Dalam hal ini, Barat telah menjadi kiblat ke arah mana “kemajuan” budaya  harus diraih. Dalam musik, mode, makanan, film, bahkan gaya hidup ala Barat kesanalah orang mengacu.  Buah lainnya dari kehidupan yang materialistik-sekuleristik adalah makin menggejalanya kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik. Tatanan bermasyarakat  yang ada telah memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada pemenuhan hak dan kepentingan setiap individu. Koreksi sosial  hampir-hampir tidak lagi dilihat sebagai tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat.

Sikap beragama sinkretistik  intinya adalah menyamadudukan semua agama. Paham ini  bertumpu pada tiga doktrin: (1) Bahwa, menurut mereka, kebenaran agama itu bersifat subyektif sesuai dengan sudut pandang setiap pemeluknya; (2) Maka, sebagai konsekuensi dari doktrin pertama, kedudukan semua agama adalah sama sehingga tidak boleh saling mendominasi; (3) oleh karena itu, dalam masyarakat yang terdiri dari banyak agama, diperlukan aturan hidup bermasyarakat  yang mampu mengadaptasi  semua paham dan agama yang berkembang di dalam masyarakat.  Sikap beragama seperti ini menyebabkan  sebagian  umat Islam telah memandang rendah, bahkan tidak suka, menjauhi dan memusuhi aturan agamanya sendiri. Sebagian umat telah lupa bahwa seorang Muslim harus meyakini hanya Islam saja  yang diridhai Allah SWT.

Sementara itu, sistem  pendidikan yang materialistik terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus menguasai iptek. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) adalah suatu hal yang berada di wilayah bebas nilai, sehingga sama sekali tak tersentuh oleh standar nilai agama.  Kalaupun ada hanyalah etik (ethic) yang tidak bersandar pada nilai agama. Sementara, pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius.

Jauh sebelumnya, bahkan Hilliard (1966) — penulis masalah kekristenan dalam pendidikan (Christianity in Education) – seperti yang dikutip oleh Husain dan Asharaf (1994) dalam buku Menyongsong Keruntuhan Pendidikan Islam, secara transparan telah menjelaskan bahwa  sekulerisasi pendidikan  memang telah meruncing dan akhirnya benar-benar terbentuk di barat pada abad ke-15 dan 16, yakni  ketika terjadi pemisahan  cabang-cabang ilmu sekuler dengan cabang-cabang ilmu yang  bersumber dari agama. Cabang-cabang ilmu sekuler dinyatakan terputus kaitannya dengan persoalan ilahiyah dan sumber dari cabang-cabang sekuler dinyatakan sebagai akal manusia semata yang         tidak perlu dihubungkan dengan agama. Sekulerisasi ini terus berproses dan akhirnya mendorong  munculnya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dikategorisasikan pada tahun 1957 oleh para rektor universitas-unversitas Amerika sebagai “Ilmu-ilmu Sastra, Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu-ilmu Alam”.  Penggolongan ini yang kemudian menjadi populer tidak hanya di Amerika dan Eropa tetapi juga di dunia Muslim.   Bahkan, dalam perencanaan kurikulum untuk unviersitas-universitas Amerika, ilmu bernuansa agama  tidak dimasukan ke dalam pengajaran wajib. Para  siswa hanya diharapkan mempunyai pengetahuan dasar mengenai ketiga cabang tersebut.

Pendidikan yang materialistik  memberikan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material serta memungkiri hal-hal yang bersifat non materi.  Bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan  investasi yang telah ditanam oleh orang tua siswa.  Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan,  jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi  yang sangat individual. Nilai transendental dirasa  tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan.  Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga.

Pengamatan secara mendalam atas semua hal di atas,  membawa  kita pada  satu kesimpulan yang sangat mengkhawatirkan: bahwa  semua itu telah menjauhkan  manusia dari hakikat kehidupannya sendiri. Manusia telah dipalingkan dari hakikat visi dan misi penciptaannya.

Akar Permasalahan

Akar permasalahan mendasar dari berbagai krisis multidimensi yang tengah kita hadapi adalah tegaknya sistem kehidupan sekuler. Tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik  dan  individualistik,  sikap  beragama  yang  sinkretistik  dan paradigma pendidikan yang materialistik serta sisi kehidupan sekuler lainnya sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya sebenarnya  hanyalah buah atau merupakan problema-problema cabang yang muncul dari diterapkannya sistem kehidupan sekuleristik tadi.

Sekulerisme oleh Muhammad Qutb (1986) dalam bukunya Ancaman Sekulerisme,   diartikan sebagai  iqomatu al hayati ‘ala ghayri asasin mina al-dini, yakni membangun struktur kehidupan  di atas landasan selain agama (Islam). Sementara, Syekh Taqiyyudin An Nabahani (1953) dalam kitabnya Nizhamul Islam, menjelaskan sekulerisme  sebagai fashluddin anil hayah, yaitu memisahkan agama (Islam) dari kehidupan.  Pemikiran sekulerisme berasal dari sejarah gelap  Eropa Barat di abad pertengahan.  Saat itu, kekuasaan para agamawan (rijaluddin) yang berpusat di gereja demikian mendominasi hampir semua lapangan kehidupan, termasuk di bidang  ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ilmuwan dan negarawan melihat kondisi ini sebagai suatu hal yang sangat menghambat kemajuan, sebab temuan-temuan ilmiah yang rasional sekalipun tidak jarang bertabrakan dengan ajaran geraja yang dogmatis.  Galileo Galilei dan Copernicus yang menolak mengubah pendapatnya bahwa  mataharilah yang menjadi sentra perputaran planet-planet (heliosentris) dan bukan bumi (geosentris) sebagaimana yang didoktrinkan geraja selama ini,  akhirnya dihukum mati.  Maka sampailah para ilmuwan  dan negarawan itu pada satu kesimpulan bahwa bila ingin maju, masyarakat harus meninggalkan agama; atau membiarkan agama tetap di wilayah ritual peribadatan sementara wilayah duniawi (politik, pemerintahan, iptek, ekonomi, tata sosial dan lainnya) harus  steril dari agama. Inilah  awal munculnya pemahaman sekulerisme.

Tapi,  satu hal yang harus diperhatikan benar adalah bahwa gugatan yang menyangkut eksistensi atau peran agama di tengah masyarakat ini sebenarnya terjadi khas pada agama Kristen saja yang ketika itu memang sudah tidak lagi  up to date.   Karenanya, menjadi suatu kejanggalan besar bila gugatan  tadi  lantas dialamatkan pula pada Islam, agama yang  sempurna lagi paripurna dan diridloi Allah SWT bagi seluruh umat manusia.

Islam jelas tidak mengenal  pemisahan antara urusan ritual dengan urusan duniawi.  Shalat adalah  ibadah yang merupakan bagian dari syariat dimana seluruh umat Islam harus terikat  sebagaimana keterikatan kaum muslimin  pada syariat di bidang  yang lain, seperti ekonomi dan sosial politik.  Seluruh gerak laku seorang muslim adalah ibadah, karena Islam adalah sebuah totalitas. Dan merupakan tindak kekufuran bagi seorang muslim bila beriman kepada  ajaran Islam sebagian dan menolak sebagian yang lain.  Oleh karena itu,  benar-benar  sangat aneh jika umat Islam  ikut-ikutan menjadi sekuler.

Pengaruh Ideologi Kapitalis – Sekuler dalam  Aktivitas Manajemen

Keyword artikel: PERSPEKTIF SYARIAH, PERSPEKTIF SYARIAH, PERSPEKTIF SYARIAH, PERSPEKTIF SYARIAH, PERSPEKTIF SYARIAH


STEI HAMFARA Merupakan salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Unggulan yang mengintegrasikan model Pendidikan Tinggi Ekonomi Islam dengan Sistem Pendidikan Berpesantren.

Dengan sistem pendidikan berpesantren terbukti membuat mahasiswa STEI Hamfara sangat kuat dalam memahami Ilmu Ekonomi yang sesuai Syariah dan alumninya dikenal memiliki komitmen tinggi serta karakter tangguh dalam membumikan Ekonomi Islam serta berpegang teguh dengan nilai-nilai Islam yang merupakan rahmatan lil’aalamiin.

Di gembleng oleh dosen dan para profesional dalam bidang Ekonomi Islam serta oleh para Pakar Syariah, Pendidikan Berpesantren di STEI Hamfara Membentuk Mahasiswa menjadi Pribadi yang Professional, unggul dalam bidang Ekonomi Islam dan Ulama dalam bidang  Ilmu Agama.

Untuk Pendaftaran Calon Mahasiswa anda bisa mengunjungi:

http://steihamfara.ac.id/formulir

atau hubungi bidang promosi dan penerimaan mahasiswa baru:

CP : Wahyu Dianto,SEI
0857 2821 1006

Mu’tashim Billah M, SEI, MM
0811 255 4846
0877 3821 4846