February 2, 2017

ANALISIS KOMPARATIF PERDAGANGAN LUAR NEGERI: ANTARA SISTEM EKONOMI ISLAM DAN KAPITALISME

hamfaralogoANALISIS KOMPARATIF PERDAGANGAN LUAR NEGERI: ANTARA SISTEM EKONOMI ISLAM DAN KAPITALISME. Kondisi perekonomian suatu negara sangat berhubungan dan dipengaruhi oleh negara lain. Hubungan ini, terlihat dalam bentuk perdagangan antar Negara atau perdagangan internasional. Perdagangan antar negara dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Yang dimaksud penduduk, yakni perorangan (individu dengan individu), antar individu dengan pemerintah negara lain, atau Overall, foreign trade economic system of Islam as equal to the foreign trade

economic system of capitalism. Actually it is not the same. Therefore, free trade between

countries requires trading activity occurred in the absence of ties (terms) whatever, without determining the customs tariff and no obstacles to the import of commodities, means to eliminate all state supervision on foreign trade (foreign trade). Currently trading system in Islam is different from the free trade system, because the state makes the bonds or the terms of trade is conducted with other countries in accordance with the benefit gained by the

Muslims.

ForeignTtrade, The Islamic Economic System, The Economic Sstem Of

Capitalism, The Comparison

1

pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Penduduk yang dimaksud, juga bisa berupa perusahaan atau lembaga yang berbadan hukum.2 Adapun pengaruh perekonomian suatu negara terhadap negara lain terjadi karena adanya faktor kepentingan masing-masing negara. Kepentingan negara dalam konteks perekonomian berupa keinginan untuk mendapatkan barang dan jasa, modal dan tenaga kerja dalam rangka memenuhi hajat hidup warga negara dan mensejahterakannya.

Setiap negara memiliki tujuan untuk mensejahterakan warga negaranya. Dalam rangka tujuan itulah, negara menggunakan berbagai cara yang kemudian terakumulasi sebagai sistem ekonomi dari negara tersebut. Ada negara yang dalam rangka mencapai cita- citanya menggunakan sistem komando seperti China, Korea, Rusia dan lain-lain. Ada juga negara yang menggunakan sistem ekonomi pasar seperti USA, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Sistem ekonomi pasar pada kondisi sekarang sedang mengdominasi dunia.

Indonesia dalam usaha menuju cita-cita ekonominya, tidak ingin tertinggal dengan ideologi pasar. Sejak pemerintahan orde lama, pemerintahan orde baru, pemerintahan reformasi hingga sekarang masih setia menganut sistem ekonomi pasar.3 Sekalipun mengalami berbagai pergeseran, dari semi kapitalisme menuju pada liberalisme, namun pada prinsipnya masih menganut ideologi pasar. Bahkan karena keinginan yang menggebu, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terjebak pada kesepakatan pasar bebas (Free Trade Agrement). Spirit pasar bebas tampak dalam pernyataan Menteri Keuangan pada waktu itu, Sri Mulyani Indrawati yang memastikan pemerintah memiliki berbagai opsi untuk melindungi industri dalam negeri dari dampak negatif penerapan perjanjian perdagangan

1 Yuana Tri Utomo, SEI., MSI adalah Dosen Tetap STEI Hamfara Yogyakarta 2 Dumairi, Perekonomian Indonesia, Erlangga, Cet. I, Jakarta: 1997, hal. 90

3 Dwi Condro Triono, “Bahaya Ekonomi Neo-Liberal di Indoensia”, al-Wa‟ie, No. 57 Tahun V (1-31 Mei 2005), hal. 8

bebas atau Free Trade Agreement (FTA). Bahkan, pemerintah siap jika harus memberikan kebijakan fiskal kepada industri yang terpukul, seperti pemberian subsidi, penguatan, dan revitalisasi industri. Dari sisi anggaran, masih ada ruang untuk melakukan pemihakan yang sifatnya selektif dan terukur (Sri Mulyani, dalam kunjungan ke Kantor Pelayanan Utama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Tanjung Priok, Jakarta, Selasa 19/1/2010). Yang dimaksud selektif dan terukur, adalah berbagai kebijakan harus dipastikan tidak mengganggu jalannya negosiasi perjanjian pasar bebas, yang saat itu sedang dijalankan oleh Menteri Perdagangan Republik Indonesia.

Sebagai penganut setia ideologi pasar, maka Indonesia harus membuka pasar dalam negeri secara luas kepada negara-negara ASEAN dan Cina melalui ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA). Indonesia juga harus loyal dengan WTO (World Trade Organization), OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) dan organisasi-organisasi dunia lainnya. Bahkan Indonesia harus bangga menjadi tuan rumah KTT APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) 2013 yang diselenggarakan mulai tanggal 1-8 Oktober 2013 di Bali, sekalipun tentu sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari. Pertanyaannya, bagaimanakah sesungguhnya konsep perdagangan luar negeri yang dikemas dengan istilah perdagangan bebas itu ? Terus apa perbedaannya dengan perdagangan luar negeri Negara Islam ?

Dalam rangka menemukan konsep perdagangan luar negeri negara Khilafah, kemudian membandingkannya dengan konsep perdagangan bebas, diharapkan para pengambil kebijakan dan stakeholder lainnya berkenan untuk meninggalkan pasar bebas, menuju penerapan perdagangan luar negeri negara Khilafah, minimal paling tidak untuk penguatan opini banding ditengah mewabahnya virus WTO dan organisasi-organisasi derifatnya. Makalah ini ditulis dengan pendekatan deskriptif fenomenologis, pendekatan ini

4 http://www.tempo.co/read/news/2010/01/19/090220169/

bisa dilakukan untuk obyek fenomena, seperti: persepsi, pemikiran, konsep dan keyakinan yang bersifat transenden.5 Senada dengan itu, metode fenomenologi adalah untuk mendapatkan pengetahuan sejati dengan mengarahkan perhatian kepada fenomena kesadaran transenden.6

Pada tahap deskripsi akan dipaparkan esensi konsep perdagangan luar negeri menurut Islam dalam buku-buku ekonomi Islam, seperti: Nidzamul Iqtishadi fi al-Islam (Sistem Ekonomi Islam) dan as-Siyasatu al-Iqtishadiyatu al-Mutsla (Politik Ekonomi Islam). Juga akan dipaparkan konsep perdagangan luar negeri menurut sistem ekonomi kapitalisme dari buku induknya, Wealth of Nation dan International Economic. Kemudian akan disajikan perbandingan konsep perdagangan luar negeri dari kedua sistem tersebut.

Keyword artikel: ANALISIS KOMPARATIF PERDAGANGAN LUAR NEGERI: ANTARA SISTEM EKONOMI ISLAM DAN KAPITALISME, ANALISIS KOMPARATIF PERDAGANGAN LUAR NEGERI: ANTARA SISTEM EKONOMI ISLAM DAN KAPITALISME


STEI HAMFARA Merupakan salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Unggulan yang mengintegrasikan model Pendidikan Tinggi Ekonomi Islam dengan Sistem Pendidikan Berpesantren.

Dengan sistem pendidikan berpesantren terbukti membuat mahasiswa STEI Hamfara sangat kuat dalam memahami Ilmu Ekonomi yang sesuai Syariah dan alumninya dikenal memiliki komitmen tinggi serta karakter tangguh dalam membumikan Ekonomi Islam serta berpegang teguh dengan nilai-nilai Islam yang merupakan rahmatan lil’aalamiin.

Di gembleng oleh dosen dan para profesional dalam bidang Ekonomi Islam serta oleh para Pakar Syariah, Pendidikan Berpesantren di STEI Hamfara Membentuk Mahasiswa menjadi Pribadi yang Professional, unggul dalam bidang Ekonomi Islam dan Ulama dalam bidang  Ilmu Agama.

Untuk Pendaftaran Calon Mahasiswa anda bisa mengunjungi:

http://steihamfara.ac.id/formulir

atau hubungi bidang promosi dan penerimaan mahasiswa baru:

CP : Wahyu Dianto,SEI
0857 2821 1006

Mu’tashim Billah M, SEI, MM
0811 255 4846
0877 3821 4846